berkaca pada sejarah...
Saya kelahiran 24 April 1980 ini sejak Oktober 2006 lalu, tulisannya mewarnai media cetak, Seputar Indonesia (SINDO) edisi Jawa Barat. Berbekal pengalamannya di bidang tulis-menulis sejak duduk di bangku kuliah, cita-citanya itu akhirnya terwujud.
Selepas bangku kuliah, pada tahun 2005, Annas menggeluti cita-citanya lewat tulisan non fiksi, hasil analisa sosialnya, dan karya fiksinya, hasil pengalaman. Karya tersebut, kerap menghiasai sejumlah media cetak, baik nasional maupun lokal. Sejak itulah, keinginan sebagai jurnalis semakin kuat.
Tepatnya pada 25 Oktober 2006, saya mencoba mengadu peruntungan lewat mengirim surat lamaran sebagai reporter di Seputar Indonesia. Gayungpun bersambut, surat lamaran yang dikirim melalui pos elektronik (email) mendapat respon dari pihak redaksi. Dan sejak itu pulalah, harapan menjadi jurnalis dijalani.
Saya anak kedua dari tiga pasangan dari pasangan suami-istri Kadinah (almarhum)-Umi Hani, mencoba ini terus melakukan aktualisasi diri di bidang jurnalis. Rasa bangga sekaligus bahagia, menjadi bagian dari pekerja kuli tinta negeri ini, dibuktikan dengan dedikasi selama dua tahun bekerka di Seputar Indonesia.
Tidak hanya menjadi reporter di koran SINDO, masih dalam bendera perusahaan yang sama, MNC Group, saya juga terlibat sebagai kontributor untuk web portal, okezone.com dan radio Trijaya FM. “Media adalah bagian dalam hidupku, sehingga apapun kondisinya, media harus tetap diperjuangkan,” waktu ada yang nanya alasa kebelet jadi jurnalis
Lalu, pengalaman apa yang dialami selama menjadi jurnalis?
Banyak pengalaman yang sebenarnya merupakan pengalaman pahit saya. Namun ketika dijalani dalam dunia jurnalis, ini menjadi sesuatu yang berkesan dan berharga sepanjang sejarah hidup saya. Sadar akan konsekwensi sebagai jurnalis di sebuah media cetak, yang harus menerima sejumlah teror, ancaman, dan pengepungan tempat tinggal oleh puluhan premanpun harus akan hadapi dan jalani, sebagai resiko hidup dan pekerjaan.
Kesadaran akan konsekwensi yang harus diterima, bisa treeliminasi dengan kesadaran akan fungsi media sesungguhnya, yakni memiliki peran kontrol sosial terhadap sistim dan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro atau merugikan rakyat.
Atas keyakinan itupulalah, sejumlah resiko seperti diancam, diteror dan kerap menjadi target penculikan harus aku terima. “Waktu itu, untuk kelas elitis kondisi Kabupaten Subang sempat mencekam. Sejumlah aksi-aksi massa kerap terjadi, tuntutannya adalah penegakan supremasi hukum yang melibatkan Bupati Subang. Karena kasus itu diblow up secara kontinu, akhirnya banyak sms gelap yang bernada ancaman saya terima,” kata saya waktu ditanya misal.
Sementara kelezatan kerja jurnalis, sebenanrnya setiap detik dan langkah adalah sebuah kenikmatan yang tak ternilai, dan ini menjadi kepuasan bathin tersendiri, tidak ubahnya aktivitas masturbasi. Namun yang jelas, bekerja dengan tanpa aturan mengikat, seoerti rambut gondrong, pakaian bebas, dan bisa merokok (tapi tetap beretika) adalah alasan pertama.
Sialnya, bisa menjadi penulis, minimal tentang pengalaman hidup. Ke-sial-an inilah yang kemudian menjadi cita-cita dan harapan terpendam, yang harus terrealisasi….
salam
annas
ym: anas_nkh I 0813.24787095
journalits: seputar indonesia
