« 2008-01 | HomePage | 2008-03 »

05.02.2008

KATANYA...

konon...
negeri ini negeri yang makmur
negeri ini negeri yang indah
negeri ini zamrud katulistiwa
negeri ini negeri yang elok
negeri ini gemah ripah loh jinawi
negeri ini kolam susu

tapi...
waktu kolonialisme menduduki negeri ini
waktu materialisme merayapi negeri ini
waktu imperialisme menjelajah negeri ini
waktu demokrasi diteriakkan di negeri ini
waktu eforia dikumandangkan di negeri ini
waktu politik bermain di negeri ini
waktu kerakusan menyelimuti negeri ini
waktu keserakahan menaungi negeri ini
waktu kemunafikan memenuhi negeri ini
waktu kematian moral menjalar di negeri ini...

aku melihat...
ibu pertiwi bermandikan darah
ibu pertiwi bejalan terseok-seok
ibu pertiwi menangis tersedu-sedu
ibu pertiwi meratap haru biru
ibu pertiwi tertegun termangu
ibu pertiwi berkabung
ibu pertiwi bungkam tak berkata
ibu pertiwi membisu tak bersuara
ibu pertiwi membuta tak menatap
ibu pertiwi terluka...

teman...
aku bukan Kyai
aku bukan Ustad
aku bukan Ulama
aku bukan Nabi
aku bukan Rasul
aku bukan Utusan Allah

aku...
aku hanya Mahluk Allah
aku hanya Khalifah Allah
aku hanya Wakil Allah
yang ingin berbagi
yang ingin memberi
yang ingin bercerita
yang ingin menjadi baik

"ONANI"

Allah...maafkan aku
slama ini aku lupa akan HadirMu
slama ini aku lalai akan NikmatMu
slama ini aku khilaf akan SayangMu...

aku begitu terbuai dengan dunia ini
aku begitu berhasrat dengan alam ini
aku begitu larut dalam materi...

ingatku akan SayangMu kembalikan alam sadarku
inginku akan HadirMu sadarkan lamunku...

maafkan aku Ya Allah...

Dibuktikan secara dewasa!!!

Ketika kamu berani bilang,
kamu seorang laki-laki,
itu harus dibuktikan.

Dibuktikan secara dewasa!!!

Baru kamu bisa merasakan
menjadi laki-laki itu
walau kadang ngga gampang,
tapi sangat sangat sangat menyenangkan.

OOOH INI TOH RESIKO JURNALIS...

Genap satu bulan Januari kemarin, tugas liputan cukup mengeras tenaga, otak, dan uang, bahkan memacu undernaline.

Sebuah pemberitaan yang dianggap terobosan baru namun beresiko, GIC Subang. Kendati sudah ditampilkan dengan profesional dan proporsional tapi tetap saja, tidak semua orang melihat berita sebagai evaluasi dan tegutran. Sebaliknya berita itu mereka anggap sebagai ancaman…

Alhasil, penulisnya kerap dihadiahi kado “bom waktu”, sms dan telpon tak bersahabat kerap menjambangi handphone saya. Meskipun kerap juga sms dukungan dan pujian, tapi enyahlah….

Malam kemarin, mungkin sebagai titik klimaks. Sekitar jam 18.45, hp bunyi. Dan isinya dari orang yang sangat dikenal, bahkan dia berusaha melindungi dari orang yang punya niat negatif. Si penelpon minta saya, saat itu juga meninggalkan Subang. Entah alasan apa, yang jelas, mustahil itu diucapkan jika bukan ada rencana ”rapatkan barisan”...

Karuan saja, saya yang Cuma dengan istri sempet down. Alhasil, malam itu juga saya bersama istri mengemas pakaian, dan meninggalkan Subang entah kemana dan dimana, yang jelas untuk sejenak biarkan saya menghirup udara segar dengan damai..

Btw...

Ooooh ini toh resiko jurnalis; diancam, diteror; diculik bahkan dibunuh....

 PEACE AND LOVE FOR ALL

 

All the posts