« 2008-02 | HomePage | 2008-04 »

23.03.2008

KAU YANG DULU BEGITU MELEKAT...

 

   

kau yang dulu begitu dekat melekat, berdetak-detak seirama dengan jantungku,

apa kabarmu, cinta? kau yang selalu sangat sangat sangat mencintaiku, apakah masih di situ?

aku mau berterima kasih karena cinta yang kudapat begiiitu besar. "apa sih cinta-cinta? klise, tahu!" itu kata mereka. tapi yang kurasakan begitu nyata, bagaimana menjelaskannya? kau mendatangiku. kau kudatangi. kau peduli padaku. kau menjagaku. kau mengingatkanku. kau menyayangiku. kau membahagiakanku....

kau selaluuu saja ikut ke manapun aku pergi. mereka terheran-heran. kita begitu dekat... setiap saat.... ah, mereka hanya cemburu saja, itu menurutku. hubungan mesra itu, ngga mereka miliki. hahahaaa....

kau ingat, waktu itu siang-siang naik motor. tiba-tiba hujan, padahal aku sudah rapi baru mandi. kau menggodaku saja, dengan air hujan itu. bajuku basah, tapi aku ngga marah. aku malah ketawa. aku senang, mungkin aneh. atau ketika banku bocor. atau kena kontrol polisi lalu lintas. atau telat janjian. hal-hal kecil yang sepintas sangat menjengkelkan, terasa begitu lucu. kau sering sekali mengajakku tertawa, bermain-main, senang-senang.... kau suka sekali menggodaku.... bukan bukan. kau selalu menghiburku....

masalahnya sekarang, tiba-tiba aku merindukan saat-saat itu.... tiba-tiba aku merindukanmu....

ups! tidak terasa sudah  dua puluh dua hari terlewati, tanpa kamu. satu-satu saya pelajari. pelan-pelan saya ikuti. meski agak lambat tapi saya coba tekuni.

dari detik pertama, hingga jam ke sekian. satu-dua-tiga, begitu hampa, begitu lesu. tapi kamu selalu saja berucap; semangat, semangat, ayo semangat. empat-lima-enam terus semangat. yah, dibalut celana jeans panjang yang terlanjur kumel, dan kaos hitam kerap putih beraneka logo, kini aku dingin, sepi dan sendiri

apa kabarmu, cinta? kau yang selalu sangat sangat sangat mencintaiku, apakah masih di situ?

setiap kali aku melewati waktu dan suasana bahagia, aku kerap menrutuk dan mengutuk diri tentang ketidak berdayaan aku, membawamu larut. ketika kamu masih di sini, di sampiing aku, dekat sekali.

terlintas terpikir untuk kita bermain: menendang, lalu mengelak. berlari, lalu terdiam. berputar dan merunduk. menghindar kemudian menyerang balik. bermain dengan unsur beladiri. sedikit meliukan gerakan seperti seorang yang sedang menari. bernyanyi, bernyanyi dan terus bernyanyi. bertepuk tangan tak henti-henti.

apa kabarmu, cinta? kau yang selalu sangat sangat sangat mencintaiku, apakah masih di situ?

di sini, aku merinduimu, sungguh!!!