« 2008-05-10 | HomePage | 2008-05-17 »

Sunday, 11 May 2008

Ketika Penguasa Bersikap Otoriter...

Sesuatu yang ironis, sebuah acara talk show di radio Simponi yang diasuh abah renggo, dipaksa dihentikan (yang katanya) oleh penguasa daerah. Rumornya, karena talk show itu merugikan salah satu pihak dan golongan…

Talk show di simponi setiap malam senin dari jam 20.00 hingga 00.00 Wib adalah diskusi yang menghadirkan nara sumber sebagai tokoh sentral, dan melibatkan audience (listener) untuk memberi tanggapan dan komentar melalui telepon dan sms terhadap tema yang sedang dibedah atau dibahas nara sumber.

Untuk kota sekecil Subang, sebenarnya acara semacam itu sangat positif, setidaknya membangun budaya demokrasi yang saat ini diagung-agungkan dari tingkat atas hingga tingkat RT, dan sebagai pembelajaran kritis dan melek politik terhadap permaslaahan yang dihadapi.

Namun, entah dengan alasan apa acara itu dihentikan, terhitung dari malam ini, yang menurut puluhan sms yang masuk ke hp saya, atas permintaan penguasa otoriter yang ada di kota ini. Dari kaca mata awam, saya melihat sikap otoriter itu terlalu berlebihan dilakukan (jika benar) oleh bupati. Jabatan dan kekuasaan sudah masuk ke dalam privacy perusahaan, yang secara garis organisasi tidak ada jalurnya…

Tindakan itu bukan yang pertama kalinya, sebelumnya media cetak, termasuk SINDO, gara-gara membuat berita yang dianggap negatif, juga “dilarang masuk” ke pemda. Ironis memang, jika alat pengawal demokrsai bernama media yang memberi pencerdasan masyarakat dianggap jadi musuh bebuyutan bagi samng diktator, yang berakhir pada pembredelan…

Sampai kapan masalah ini dibiarkan dan terus berlanjut???????

Ketika Mata Rantai Itu Putus...

Yups ketika mata rantai itu putus, muncul sebuah persaingan yang tidak sehat. Doktrin “pembunuhan” dan “pembobolan” itu mengakar di satu atap satu profesi, bernama Pers di Kota Nanas. Targetnya, SINDO atau wartawannya, ya Gw ini. 

Persaingan apa yang sedang mereka rencanakan, konsep skenario apa yang sedang mereka siapkan, entahlah gw gak pernah ngurus. Yang jelas, sejak kelahiran bidadari pertamaku, getsa allyesa azra, tanggal 20 oktober lalu, nuansa ini betul-betul terasa. Ada banyak perubahan dan cara pandang, dari temen-temen jurnalis. Dari sejak itu, SMS atau telpon tentang peristiwa dan berita TKP, betul-betul putus dan gak sampe ke hp. “Boikot info untuk SINDO”  

Seinget gw, ada tiga peristiwa penting yang mereka berusaha untuk membobol SINDO, dengan tanpa kabar dan info: pertama aksi perampokan uang SPBU senilai 337 juta, kedua peristiwa kebakaran di cikaum, dan peristiwa banjir di legon kulon.  

Syukur Tuhan punya mata dan punya hati, dari tiga peristiwa itu, hanya perampokan SPBU yang gak dapet. Sementara duanya, SINDO masih berani bersaing, tidak hanya poto, grafik, juga data lengkap kita sajikan untuk pembaca.. 

Ironisnya, ketika dua kasus itu muncul di SINDO, si juragan malah meng-“intimidasi” ke beberapa pers, katanya “ SINDO tahu tentang ini, kenapa harus dikabari,” ha ha ha ha najis mugholadah, mungkin dia lupa jika Tuhan maha cinta, dan Dia lah yang membisikan gw semua kejadian yang Dia skenariokan?

Yang ada lo yang kebobolan boy, lihat berita hari ini (minggu, 11 mei) halaman 12 SINDO: “Pelaku Pembobol ATM BCA Pamanukan Ditangkap”. eit-eit mau coppy paste lo ye... Puas lo.... wakakakakak

Ada curiga juga, jangan-jangan ini skenario untuk menjatuhkan gw di depan redaktur jakarta. Dengan bobolnya berita, mereka yakin gw akan diabisin jakarta, dan dari situ jakarta dengan sangat mudah menendang gw. Padahal. Nih padahalnya, redaktur lebih dewasa cara berfikir dan lebih bijaksana untuk ngambil keputusan, karena ada aturan mainnya...

Jadi, percuma saja lakukan skenario itu, tidak akan mendapatkan sesuatu sedikitpun, kecuali anda akan ditertawakan  oleh pembaca, jadi bersainglah dengan cerdas dan sehat, atau kita tunggu tertawaan pembaca yang dialamatkan ke kita, hah kita, lo aje kali gw kagak....

SINDO adalah SINDO, yang mencoba menyajikan info dari TKP dan Opini masyarakat dengan tajam, akurat, dan kontinu, tentang nasib, duka, dan kasus hukum seseorang. Dengan sajian itu, SINDO masih tetap menjadi primadona di kota nanas. Meski harga jadi Rp3 ribu per eksemplar, tidak kemudian menurunkan oplah, karena Subang butuh berita bukan curhatan semata... "tidak ada ngaruhnya dengan kenaikan harga, malah cenderung bertambah," tegas si agen

Btw, apa yang kita dapatkan dari itu semua?????