« Minggu Kawan Sedunia | HomePage | Tuli Tapi Gak Tuli »

24.06.2008

Transmigrasi Nge-Bedol Desa

Hari Jum'at besok (27/6) gw berencana menjemput istri dan sang buah hati di jakarta. berarti, kebahagian bentar lagi dinikmati. kebahagian trelezat di dunia katanya  diantaranya ketika kita berkumpul dengan keluarga, apapun kondisinya. tetrlebih ketika keturunan kita masih kecil, meskipun baru mendengar tangisannya, tapi perasaan bikin dompet tebel...

 
42-19459223 - Family with Cooler in Park

nah selain, bentar lagi anak dan istri kumpul, kebahagian kedua yang pasti nikmati adalah, ibadah, menunaikan kewajiban suami ama istrinya (hualahhhhhhhhh), dan ibadah inilah macem ini yang sampe skr gak ada cape n malesnya. ya iyalah udah mah ibadah, nikmat pula...

gak bedanya kita mau ibadah liannya, kalau mau sholat tentu kita harus menyiapkan diri dalam keadaan bersih dan suci,tentu setelah kita mengerti ilmunya.nah untuk ibadah yang satu ini juga kita harus tahu ilmunya, ya minimal kita buka-buka lagi primbon kamasutra.. biar ibadah kita khusyu, dan tumaninah.

mumpung si istri belum sampe Subang, tentu dong gw harus ngebet-ngebet tulisan lagi. nah salah satunya gw buka okezone di rubrik life style. salah satunya ya copas ini: 

Raih Kepuasan Seksual yang Maksimal



MELAKUKAN hubungan seksual menjadi kebutuhan pasangan suami-istri (pasutri). Memperoleh kepuasan yang maksimal, tentunya menjadi dambaan.

Saat pasutri berhubungan seksual sewajarnya berdasarkan cinta. Sebaiknya kepuasan yang diperoleh tidak hanya salah satu pihak saja, melainkan kedua belah pihak.

Dokter spesialis andrologi dan konsultan seksual dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Dr Anita Gunawan SpAnd mengatakan, kepuasan dalam berhubungan seks itu harus dirasakan atau didapatkan dari kedua belah pihak yang melakukan. "Kepuasan tidak boleh hanya dirasakan satu orang," tandasnya.

Anita memaparkan, banyak anggapan yang mengatakan jika telah mencapai orgasme saat berhubungan seksual merupakan tanda dari kepuasan. Terutama dari segi kaum pria. Tetapi pernyataan tersebut, menurut Anita, belum tentu benar. "Tidak bisa dikatakan bahwa kepuasan berhubungan seksual sudah didapatkan jika di antara mereka ada yang sudah orgasme," sebut Anita.

Dia menuturkan, kepuasan dalam berhubungan ini, atau yang biasa yang disebut dengan sexual satisfaction. Meliputi keadaan fisik dan kejiwaan pasangan. "Jika sudah melakukan hubungan, dan keduanya merasa benar-benar plong, maka itulah yang dinamakan kepuasan," katanya.

Kepuasan dipengaruhi keterlibatan emosional, kualitas ereksi untuk pria, dan kualitas gairah pasangan terutama untuk wanita. "Semakin terangsangnya wanita, semakin ia mendapatkan kepuasan," katanya.

Untuk mendapatkan kepuasan seksual, fungsi alat-alat seksual harus optimal. Meliputi ereksi penis, pelembapan vagina, dan kondisi tubuh secara umum harus dalam keadaan prima.

"Dalam hal ini, kondisi psikologis pasangan harus diperhatikan. Kemudian, harus diketahui bagaimana hubungan keterikatan emosional dengan pasangan. Serta waktu yang tepat, misalnya dilakukan pada saat santai," tutur Anita.

Dalam hubungan seksual, hendaknya tidak dalam keadaan lelah. "Waktu yang ideal adalah saat pagi hari karena setelah tidur, kita merasa fresh, tapi itu pun tergantung dari masing-masing pasangan, kapan waktu yang pas untuk melakukan hubungan seksual.

Hal senada diungkapkan psikolog pemerhati perempuan, Dra Ratih Andjayani Ibrahim MM. Dia mengatakan, kondisi psikologis saat ingin berhubungan seksual perlu diperhatikan.

"Kondisi ini meliputi baik itu dari segi kesiapan, kenyamanan, dan kesenangan untuk berhubungan seksual," tutur Ratih yang praktik di Klinik Personal Growth, Jakarta Barat.

Dia menjelaskan, kesiapan dari segi kejiwaan diperlukan untuk hubungan seksual yang memuaskan. Posisi dalam hubungan seksual tidak perlu terlalu diperhatikan. Karena apa pun itu posisinya, jika pasangan merasa nyaman dengan posisi yang dilakukan, maka kepuasan pun bisa didapatkan keduanya.

Anita menyebutkan, semua posisi bercinta dalam berhubungan seksual mendatangkan kenikmatan. Tetapi, tergantung dari masing-masing pasangan. Mereka yang menentukan, posisi mana yang bisa memuaskan mereka.

"Jangan ada paksaan dalam menentukan posisi berhubungan. Untuk menentukan posisi ini, hendaknya dikompromikan bersama," kata androlog lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, ini.

Dia juga mengatakan, suami atau istri jangan pernah ragu atau malu jika merasa belum puas dalam melakukan hubungan. Hal itu hanya akan menjadi beban.

Kemungkinan yang timbul, kecenderungan untuk berhubungan seksual dengan pasangan menjadi menurun. Perlu diingat, berhubungan seksual harus keinginan dari kedua belah pihak. Tanpa adanya paksaan.

"Kenikmatan dan kepuasan seksual, harus didapatkan kedua pasangan," tutur Anita.

00:25 Permalink | Comments (1) | Email this

Comments

teoriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Posted by: dahlia | 26.06.2008

Post a comment