« 2008-06 | HomePage | 2008-08 »

31.07.2008

Terus Bergerak Anakku…

 
Hati orang tua yang mana, yang tidak bahagia dan bangga ketika sang buah hatinya melakukan aktivitas?

Kakinya melakukan gerakan seperti orang menendang, tangannya sudah bisa memberi pembelaan ketika orang yang tak dikenal hendak menciumnya, jari-jarinya berusaha meraih benda, matanya tidak berhenti mencari asal suaranya, mulutnya mengeluarkan kata-kata yang susah difahami, sementara badanya kerap berusaha berganti posisi dari telentang menjadi tengkurab…

Yups, gadis kecilku, getsa alleysa azra sudah melakukan aktivitas itu. Usianya, hari ini genap yang ke 100 hari. Malaikat kecilku lahir 20 April lalu. Setiap tingkah polahnya ada kebanggan tersendiri, senyumnya setiap kali gw pulang ke rumah mampu melipur lelah dan capek, tangisnya adalah do’a panjang dalam setiap langkah…

Cepatlah besar matahariku

Menangis yang keras janganlah argu

Tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku

Doa kami di nadimu…

 

Maafkan kedua orang tuamu

Kalo tak mampu beli susu

BBM naik tinggi, susu tak terbeli

 

Jajanan Pinggir Jalanan

Kehidupan malam termasuk seks bebas tak hanya di kota besar, namun juga terjadi secara agresif di daerah. Bahkan, hampir setiap malam, lokasi-lokasi tertentu yang menjadi titik wisata lendir selalu padat oleh pengunjung.

Subang adalah salah satu kota yang rentan terhadap cap ‘pelacuran’. Bukan rahasia jika dunia prostitusi begitu lengket di beberapa daerah Subang. Harumnya pun sudah menyebar ke kota-kota lain.

Oleh sebagian orang, stempel “pelacuran” di Subang dianggap susah untuk diberantas. Alasannya, di tengok dari filosofis nama Subang berasal dari gabungan dua unsure kata, yakni Susu dan Lubang.

Menelusuri kawasan prostitusi terselubung di Subang bakal membuat mata terbelalak takjub. Betapa tidak, 30 kecamatan yang ada di kota nanas ini terindikasi memilikinya. Beberapa di antaranya di kecamatan Pagaden, Cipeundeuy Cipunegara, Cimacan, Compreng, dan Subang. Luar biasanya, di Pagaden dan Cipunegara, lokasi prostitusi terselubung ini justru adalah rumah-rumah penduduk. Bahkan di daerah Cipeundeuy, rumor yang bereda, bisnis terselubung itu sudha dilegalkan oleh orang tuanya.

Seperti pedesaaan pada umumnya, kawasan prostitusi tak bakal tercium. Namun, dari para tukang ojek yang mangkal, barulah terungkap bahwa rumah-rumah penduduk itulah arena prostitusinya. Biasanya, pengojek mengantarkan para pendatang yang membutuhkan jasa wanita penghibur, langsung kerumah yang bersangkutan.

Wangi aroma ‘pelacuran’ rumahan di Subang ternyata sudah disadari oleh warganya sendiri. Namun, praktek kotor itu seolah sudah menjadi budaya dan kebiasaan. Gilanya lagi, aksi penjualan anak perempuan dibawah 20 tahun pun kerap terjadi dengan sepengetahuan keluarga, termasuk orang tua.

Mengencani para wanita pun tak terlalu sulit. Pasalnya, warga umumnya tahu mana pendatang yang membutuhkan kesenangan sesaat itu. Di desa Saradan, Pagaden, Subang, terdapat beberapa rumah warga yang berfungsi ganda sebagai tempat prostitusi terselubung. Wanita penghibur yang disediakan, tak lain adalah tetangga, saudara atau bahkan anak mereka sendiri.

Pada umumnya, perempuan muda didesa ini enggan untuk dibawa berkencan diluar rumah. Mereka beralasan, khawatir terkena razia dan merasa tidak nyaman dengan tempat-tempat asing. Tidak seperti PSK pada umumnya, perempuan muda yang menjajakan diri didesa ini tidak terlalu mematok waktu ketika diajak berkencan. Mereka juga tidak keberatan ditanyai mengenai kehidupan pribadinya.

Warga tampaknya tidak ambil pusing dengan praktek prostitusi yang berlangsung diwilayah tempat tinggalnya. Bahkan, kesan yang tertangkap justru mereka bangga didatangi oleh pendatang yang berasal dari kota, khususnya kota Jakarta. Kendati harus membayar minuman yang disuguhkan, para pendatang mendapat perlakuan yang sangat ramah, layaknya tamu istimewa.

Penindakan praktek prostitusi yang berpraktek dirumah, sampai saat ini belum maksimal. Aparat setempat baru menindak sebatas teguran belaka. Pasalnya, aksi yang sepertinya sudah mengakar tersebut, sulit benar-benar diberantas tanpa peran serta warga desa itu sendiri.

Sejauh ini, praktek prostitusi yang berlangsung di daerah ini tampak berlangsung lancar. Belum ada tindakan tegas, berupa larangan atau razia seperti yang terjadi di hotel-hotel atau tempat prostitusi terselubung lain.

Kebanyakan, warga yang mempraktekan aksi prostitusi terselubung, sebetulnya tidak benar-benar terdesak oleh faktor ekonomi. Mereka rata-rata saling beradu gengsi dengan para tetangga yang sama-sama punya usaha terlarang itu. Gengsi seolah terangkat ketika kedatangan tamu yang memesan perempuan muda dari mereka.

Warga sendiri tidak tahu pasti sejak kapan praktek prostitusi terselubung di kawasan ini berlangsung. Menurut warga setempat, I’in, kampung ini marak menjadi tempat prostitusi terselubung sejak tahun 1970-an dan berlangsung hingga sekarang.

Pendatang yang biasa memesan pekerja seks di kampung ini pun mengaku merasa aman ketika melaksanakan aksi bejatnya itu. Tidak terbersit kekhawatiran akan adanya razia yang dilakukan aparat keamanan.

Ajang prostitusi terselubung rupanya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika dilakukan di tengah-tengah pemukiman warga seperti didesa Saradan, Kecamatan Pagaden Subang, Jawa Barat ini, tentu sulit untuk diberantas. Pasalnya, sulit untuk membedakan mana mempraktekan kegiatan ilegal dan mana yang tidak.

Terakhir ini bisnis esek-esek terselubung tidak hanya di daerah pedesaan, tapi sudah masuk wilayah perkotaan. modusnyapun hampir sama. hanya saja di daerah perkotaan, tempat eksekusi "barang haram" itu sedikit elit, di hotel-hotel atau di kamr kost setelah dispekatai harganya.

Dalam kasus seperti ini, selain adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum, peran serta dan kesadaran masyarakat sendiri, tentu sangat diharapkan. Sehingga, aksi ilegal itu tidak terus berlanjut.

 

30.07.2008

Pilkada, Janji diobral

Hari ini tanggal 30 Juli adalah hari kedua pendaftaran calon bupati dan wakil bupati Subang periode 208-2013. ada beberapa nama yang muncul untuk tampil di medan perang.

Salah satunya, incumbent eep hidayat, satu anggota DPRD Subang imas aryumningsih (keduanya masih malu-malu nyebuti pasanganya), sementara sekda bambang heryanto pede maju dengan ngegandeng kepala dinas kesehatan alma lucyati. Sisanya dari independen, salah satunya artis sinetron primus yustisio yang berpasangan dengan kepala desa blanakan. gak cuma itu, pimpinan pesantren ahmad juanda-nandang sudrajat, juga diding kuriwan-hasyim, gak mau kalah jadi kompetitor.

Jika saja kemarin-kemarin mereka sudah melakukan perang baligo dan spanduk, maka mulai hari ini mereka sudah berada di daerah konflik, perang sesungguhnya. Tidak hanya perang spanduk dan baligo, mereka juga akan perang missi dan visi, mimpi, strategi dan perang uang untuk money politik.

Tentu saja, usai peperangan itu akan menghasilkan sang jauara dan sang merana (kalah), siapakah mereka, belum saatnya nebak, masih terlalu pagi untuk berspekulasi. Tapi yang sudah jelas, rakyat akan keluar sebagai tim yang kalah.

Coba saja kita berimajinasi ketika hari pelaksanaan kampanye. Ratusan bahkan ribuan orang akan datang berduyun-duyun ke tempat kampanye, mereka harus panas-panasan, negluarin duit utk bensin dan beli es cendol, begitunya sampe lokasi kampanye rakyat dipaksa bilang siap dan memilih bapak/ibu, kalo ditanya ama si jurkam: apakah anda siap mendukung? Atau akan mendukung siapa?.

Sudah selesai? belum cukup, lihat saja sang narator juru kampanye, dengan bangga dan gagah akan membuat kebohongan public, dengan diawali kata seandainya, andai kata, jika, misalnya dan seumpamanya menang rakyat akan begini dan begitu (maksudnya akan tetep miskin dan susah nyari kerja).

Sudah beres? Belum juga. Bayangkan, rakyat yang sudah ngebela-belain datang ke tempat kampanye dengan ngeluarin uang dan dibohongi janji-jani, mereka masih dipaksa harus ribut ama tetangga sebelahnya, ama keluarganya, temen gengnya, temen kelasnya, temen kantornya, hanya karena gara-gara beda pilihan saja. Untung kalo cuma diem-dieman, parahnya lagi harus adu fisik man…

Lalu, apa yang akan diterima atas dedikasi rakyat kepada calon pemimpinanya itu yang udah kayak kebo congek,, ya seperti yang dulu, harga sembako susah, lowongan kerjaan sulit, kemiskinan numpuk.

Setelah itu, pas pelantikan sang Bupati terpilih akan bilang “Emang Gue Pikirin…”

Akhirnya Datang Juga…

 
 
Hi blog, dah lama gw gak nyapa lo. Seminggu ini gak punya waktu untuk sekedar corat-coret lo. Terlalu banyak yang dipikirin dan dirasain, dari kebahagaian istri udah selesai wisuda, anak-istri kumpul di subang, sampe dana TP molor seminggu keterima.

Tanggal 20 Juli lalu, gw ngeboyong anak-istri ke subang dari Jakarta. Setelah sekian bulan dia mondok di ortunya pra-pasca persalinan). Moment wisuda, jadi waktu yang tepat untuk gw bisa ngeboyong dia, karena sebelumnya gw terlalu kelu untuk nyari alasan ke mertua biar mereka bisa gw bawa ke subang.

Akhirnya gw berhasil bawa keluarga gw ke subang, dan orang tua mertuapun ikut nganterin ke subang, sempet nginep sehari, besoknya mereka pulang ke Jakarta lagi, di jalan arah pulang bonyok ke tangkep polisi, damai di tempat kena cepe.

Setelah anak-bini kumpul, gw ngerasa orang yang paling bahagia dan sempurna di dunia. Gak sia-sia pikirku kerja mati-matian untuk ngehidupin keluarga, dan yang jelas setiap gw pulang liputan, rasa cape seharian ilang setelah liat Getsa Alleysa Azra tersenyum yang sudah ngenalin gw sebagai bapaknya.

1,2,3 hari hidup gw berasa berarti, ada yang dikangenin dan mengangenin (halah ejaan apa pula ini). Namun berikutnya kebahagian gw sempet terusik karena masalah klasik; TP bulan ini molor dicairkan. Padahal biasanya setiap tanggal 20 TP selalu cair, tapi bulan ini tangal 26 baru ditransfer.

Wajar saja gw sempet sumpah serapah, karena di antara kebahagian kumpul ama keluarga, kebutuhan keluarga tergannggu karena TP telat, dompet lebih banyak kempesnya. Gak cuma itu, ngerasa bersalah ke dealer motor dan telkom (eit-eit iklan niy) karena bayar motor dan telpon bulan ini belum bisa dibayar. Akhirnya telpon diputus sampe sekarang.

Alternatifnya, gw puter otak untuk mempertahankan hidupkeluarga tanpa harus emlacurkan diri dari idealis sebagai jurnalis. Caranya, berita yang sifatnya ceremonial gw bisnisin, si narsum gw minta untuk pesanan khusus Koran, lumayan keuntungannya untuk nutupin biaya hidup keluarga sehari-hari, bayar warnet beli pulsa wat nelpon narsum atau beli bensin yang harganya aje gile.

Kembali ke masalah keterlambatan TP. Gundah gulanah masalah TP ternyata bukan cuma gw yang dibikin ngamuk-ngamuk. Temen-temen reporter lain pun mengalami hal yang sama. Akhirnya TP menjadi pembahasan seru di room conference YM setiap sore dengan anak-anak reporter se-Jabar.

Seorang kawan nyebut kalo perusahaan tempat kerja kita mengarah kepada kondisi kolep dan merugi, karena hobby bikin produk baru. Jadi modal untuk usaha di bidang yang lama minim, karena diserap ke bidang usaha baru. Bahkan sempet juga terlontar untuk “hari bebas berita” sampai ancaman eksodus missal.

“Udah mah gaji nihil, pencairannya masih saja gak jelas. Belum lagi aneka claim yamng gak pernah ada juntrungannya. Lama-lama begini mungkin kita harus eksodus ke tenpat lain, bagaimana ya?,” tulis si members room conference.

Members room confrence dengan serempak ngejawab: bakar, boycott, merdeka dan lain-lainnya…

Jangan Salahkan Aku Menghamilimu

Sadis juga subjek di atas, tapi mungkin demikian adanya. Gw Cuma berharap lo jangan salahin gw kalo gw sampe menghamilimu….

Subjek itu bukan karena gw yang hyper sex, atau istri udah gak bisa melayani nafsu gw, bukan juga istri udah gak bikin gw gairah. Tapi karena gw manusia normal yang masih punya nafsu dan birahi sex kepada kaum hawa, apalagi yang masih bau kencur…

Subjek ini awalnya begini, waktu itu sekitar jam 16.30 Wib hari sabtu (sore minggu) gw nongkrong di bundaran Wisma Karya (WK) Subang, ini kali pertama gw nongkrong di sore hari, biasannya gw nongkrong malam hari di kafe bandrek pojok timur-selatan WK. Sore itu sambil ngopi dan ngobrol ngalor ngidul, gw ama temen yang sempet dikejar-kejar preman biadab malam kamerin, nikmati senja yang cerah.

Suasana Subang tampak cantik sore itu, suasananya indah, matahari yang setengah ternggelam nambah suasana jadi menyenangkan. Sementara di jalanan banyak semut aspal hilir mudik. Kebanyakan dari mereka pakai motor dan berjenis kelamin wanita.

Pada awalnya gw cuek dan tidak ambil pusing ketika ngeliat dua cewek melintas dengan celana super pendek di atas paha di bawah bokong (gak ada kata yang lebih sopan untuk ngegambarin pendeknya celana cewek), atau celana itu cuma sekedar nutupin kegadisannya saja, yang bikin manusia normal mabuk kepayang.

Tidak cukup jari gw untuk ngitung berapa banyak ABG yang melintas dengan busana seperti itu. Setelah dilakukan pengamatan serampangan, jumlah cewek yang pake celana 90 persen telanjang itu ato yang pake celana 50 meter di atas lutut itu ternyata gak cuma mereka yang punya paras cantik, body aduhai dan kulit putih bersih. Tapi gak sedikit mereka yang modal pas-pasan, alias tampang ngeselin, body maksain, dan warna kulit setengah abu-abu (hitam dicampur bedakputih), singkatnya hanya modal berani pamer paha doing.

Namanya juga laki-laki, normal pula, apalagi udah lebih 3 bulan gw libur menggauli istri pasca-persalinan. Jadi wajar saja sempet terlintas pikirian jorok, menikmati barang di balik celana, dan membedah apa sebenarnya yang ada dalam celana itu. Pengen tahu aja, adakah beda rasanya antara yang hitam dan putih.

Otak jorok gw, akhirnya spontan mulut gw ngomong “Jangan Salahkan Aku Menghamilimu”.

Inikah trend anak muda, atau bentuk keberhasilan propaganda kapitalis melalui media untuk menghancurkan moral bangsa. Belum jelas juga alasannya apa. Terlalu banyak spekulasi untuk menjawab itu.

Setidaknya, selain karena media yang hanya mementingkan profit, kelemahan control keluarga/orangtua (boro-boro mau ngontrol, ortunya aja berlomba saling menor dengan anaknya), lingkungan masyarakat dan pendidikan yang hanya mementingkan nilai dibanding nilai moralitas siswa.

Kalau itu sudah menjadi satu kesatuan pembenaran, maka wajar juga kalau orang yang tidak bergaya seperti itu dianggap salah atau tidak ikut trend: “Jika kesalahan menjadi aktivitas biasa yang dilakukan secara massal, maka kebenaranpun akan menjadi sala” kata ahli dari kampong timur tengah.

Kalau teori itu menjadi landasan hidup dan gaya hidup seperti itu sudah menjadi hukum adat, jadi lo “Jangan Salahkan Aku Menghamilimu…”

18.07.2008

Ke Jakarta Modal Utang

Udah satu minggu ini kondisi dompetku morat-marit, bahkan robek nyaris tak berisi. padahal di saat yang sama gw harus ke jakarta, ngehadiri istri wisuda di UIN Syarif Hiyatarullah Ciputat.

Sempet juga dibikin pening,gimana caranya bisa bawa uang ke jakarta. sementara gaji baru bisa direalisasikan ranggal 28 juli depan, berarti masih sekitar 12 hari lagi.

waktu gak mau komfromi dan gak ngenal kebingungan gw, tibalah hari kamis, sehari sebelum keberangkatan gw ke jakarta. lagi-lagi duit blom dapet, sampe ashar kemarin.

sambil bikin naskah berita, gw masih puter otak. solusi gak ketemu yang ada kirim naskah telat 1 jam. naskah udah beres semua, tinggallah bingung yang semakin menjadi-jadi. puter-puter otakakhirnya gw putusin pinjem duit ama sejumlah nama yg gw kenal.

mohon pinjam gw ungkapin dengan sms,ada 5 orang mah. dari orang yg gw sms, hanya dua orang yang gayung bersambut, gw pinjam duit antara Rp500-1 juta, jaminan tanggal gaji sebulan gw. Pa Ahmad dan Pa Encep ngasih pinmajan, pa ahmad minjemin 1 jut,pa encep setengahnya.

satu sisi aman dan lega, tapi jujur setelah mereka mersepon gw jadi bengong. antara gak enak rasa, dan kebutuhan. andai saja gw punya, gak bakal gw harus neglakuin beginian, yg bagi gw sendiri berusaha untuk melakukan itu. yaaah gw pikir dari pada hari kebanggan istri gw di upacara wisuda sabtu besok dan kepulangan mereka ke subang hari minggu gak jadi, resiko inipun gw hadapi.

gw sekarang baru selesai siap-siap jalan, semalaman sampe jam 11.00 malam gw habis ngepel tempat. gak enak kalo rumah kotor dan dekil, karena  mertua dan orang tua gw hari minggu nanti bakal dateng. bagaimana kata duni, kalo "dapur" pribadi gw ketahuan....

Yo wiss sekarang gw harus tand by di terminal subang,untuk berikutnya gw ke jakarta. doain ga ada masalah di jalan....

 

16.07.2008

Istriku Yang Sabar

ayah ga usah susah-susah cari uang buat beli kebaya bunda, bunda mau pinjam  ma neni ato farah tulis pesan singkat istri gw yang ada di jakarta. sebelumnya istri merenegk minta beli kebaya buat wisuda hari sabtu (19/7) besok.

dia memang sosok yang sabar dan memahami penghasilan suaminya yang berprofesi jadi wartawan, dia tahu betul berapa gaji yang diterima setiap bulannya. sebagai suami, ucapan itu bukan memberi ketenangan sebaliknya, bagi gw isi sms itu bak petir di siang bolong.

sms itu bukan karena dia tidak lagi punya keinginan membeli kebaya wisuda, tapi lebih kepada dia tidak mau memaksa suaminya untuk mendapatkan uang dengan cara-cara yang tidak halal. toh dia juga tahu, kalopun harus korupsi, tidak ada yang harus dikorup, kecuali tumpukan koran sindo yang menggunung di teras rumah.

betapa tidak berdayanya aku untuk memenuhi keinginan istri. dia memang menerima dan memahami keadaan gw, tapi suami yang mana yang tidak tersayat hatinya ketika permintaan seseoarang yang dicintainya tidak terpenuhi.

istri memang terlalu banyak bersabar, beda dengan dengan gw yang suka maksa dan tetep ego. setelah melahirkan putri pertama kami,  getsa alleysa azra belum ada permintaan yang sifatnya menuntut, selalu saja dia mengakhirinya dengan kalimat “kalo ayah punya uang”.

meskipun separuh hidupnya untuk untuk getsa yang baru berusia 3 bulan, namun tidak pernah ada suara keluh kesah dari bibirnya. minta uangpun hanya untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak. sementara dengan gaji yang hanya lebih puluhan ribu dari umk jakarta, gw cuma bisa kirim sebulan dua kali, itupun dengan nominal yang amat sangat cukup (jauh dari memenuhi kebutuhan).

“gw harus bisa dapetin uang untuk beli kebaya istri,” yups ucapan itu tertanam dalam otak gw. didorong lagi dengan sms istri yang sedikit maksa untuk membeli kebaya “ayah, beli kebaya dan menggunakan pada waktu wisuda bukan untuk sekedar trend dan ikutan-ikutan. Tapi, ini sejarah terindah yang akan bunda alami sehari dalam hidup bunda,” tulisnya lagi.

cukup satu kali gw mengecewakan dia. waktu itu masih pengantin baru, gw dapet voucher nginap di ciater. kebetulan juga pada saat hari h gw harus bikin berita jam 18.30 wib, jadi kesempatan itu gw lewatin. demi tugas profesi, moment penting keluargapun terpaksa digagalkan

ternyata moment sia-sia itu masih direkam di otak istri. tiga hari lalu, dia sempet sms, yang bagi gw ini telah menempatkan gw pada posisi yang teramat sangat salah sekali. ini sms yang dia kirim  jam 21:30 wib, waktu itu gw maksa dia cepet pulang ke subang:

“kamu gak tahu betapa aku mau amat sangat ingin bareng kamu. dulu kita dapat voucher menginap  gratis, tapi kamu malah kasih keorang, aku yang maksa pergi karena aku mau berduaan ama kamu tanpa apapun dan siapun, sebelum kita punya anak.

karena begitu aku hamil, aku tahu bakal pisah ama kamu selama 6-7 bulan seperti sekarang ini. waktu yang aku mau ga kesampean, pisah lama tau-tau balik bareng anak. jauh dari lubuk  hati, aku masih pengen menikmati  masa penganten baru. semoga dede bayaran yang setimpal untuk semua  yang budan tinggalkan. lop u ayah,”

doakan ayah, ayah bisa membayar keinginan bunda yang tak tersampaikan. yakinlah dede akan menjadi pemandangan indah buat mata kita.

untuk dede, jangan pernah bermimpi menjadi wartawan, sayang…

 

I love you,
You love me,
We’re a happy family,
with a great big hug,
and a kiss from me to you,
Won’t you say you love me too

I love you,
You love me,
We’re best friends like friends should be,
With a great big hug,
And a kiss from me to you,
Won’t you say you love me too

 

 

14.07.2008

Antar Kota-Antar Provinsi

antar kota antar provins denger atau baca kalimat itu, otak kita dibawa ke terminal, jalan raya atau bus. hampir di semua tubuh kendaraan angkutan umum jenis bus besar, tertulis kalimat antar kota antar provinsi. tapi kali ini gw ga mau ngomongin jurusan bus atau tarif dari subang-jakarta.

yups, sore ini kali pertamanya gw bisa browsing di yahoo messenger bisa antar kota antar provinsi. maksudnya, chatting yang melibatkan sindo edisi jabar-jateng.ga kebayang kan apa jadinya kalo dua komunitas ini jadi satu, yangjelas-jelas beda bahasa dan karakter, yang satu bahasa sunda satu laginya bahasa jowo. sekitar 15 orang lah members-nya kalo gak salah ingatan.

yaaaahhh meskipun sampe ada sumpah chatting: "satu nusa bangsa satu bahasa kita", tapi tetep aje dua bahasa itu muncul. bukan hanya kemucnulan dua bahasa itu yang menjadi daya tarik di chatt sore tadi, karena tema pembicarannya juga semakin sore semakin aneh dan nyentil juga. biasalah, dari semua members room itu hanya dua orang yang sempet mampir.

satu dari jabar, isma noor anggraeni, dan satu laginya dari jateng, sari. sayang awal kemunculan isma jadi rebutan pria sejati, akhirnya hanya bertahan 15 menit, mungkin karena budeg disuitin ama pria-pria kesepian isma akhirnya resign out. setelah isma kabur, muncul sari.

sayang, meski sari stand by, dia cuma nongkrong doang, dan nyesekin room. sementara metta yang pertama kali namanya dikenali, katanya dijaga ketat oleh kared, mas anthony (nah lo gak ikut-ikut neh?)

punya dua bidadari, yang satu kabur satu lagi sariawan, bikin room panas-panas, badan ini panas. akhirnya tema obrolan pun semakin gak jelas. biasa suami-suami yang beraninya di room itu, ngebahas masalah subang. eit-eit bukan subang tempat gw liputan, tapi subang yang mengandung dua unsur kata: SUsu dan luBANG.

meski rebutan pepesan kosong, tapi sempet seru juga, ocehan pekerja di bawah tekanan, dan mencari pelampisan ketegangan di room itu wat negbahas SuBang. malah ada pengakuan polos, members dari jateng sempet nycipi lidah jabar.

"Wuadem rek rasa lidah sunda, kebanyakan makan lalapan kali ya," celetuk si super_xxxx. ocehan si super ini bikin tukang pecel lele langsung kipas-kipas, katanya tambah gerah. maklumlah dia mau merebut gelar yang saya emban "petualang wanita" wakakakakak

sayang, setelah 60 menit lewat, warga jateng akhirnya satu persatu kabur, atau pada jempe, ogah ngomong. gak ngerti apa mereka gak bisa bahasa indonesia atau kenapa, karena pertama mereka gabung bahasanya kental dengan hurup "O".

obrolan antar kota antar provinsi akhirnya dikuasai oleh jabar. apalagi setelah mucnulnya si penghayal abadi (raka). jateng dipukul mundur. yang ada room dua negara itu (pasundan dan kerajaan jawa) dikuasai oleh jabar. percis kayak PERSIB mukul mundur PERSELA 5:3 kemarin....

Dendam Ki Gendheng

di harian tempat gw kerja, di bagian pojok atas halaman ganjil selalu menampilkan gambar mojang. kriterianya dia punya prestasi dan diutamakan cantik (kebalik gak ya…). di rubrik itu, memuat profil singkat si mojang, dari nama, umur, pendidikan, hobi atau kecenderungan dan prestasi yang dipunya.

gak tahu alasan pastinya apa, tapi katanya si katanya itu, filsofisnya, sindo jabar yang kerap kental dengan berita kasus itu menginginkan pembaca sedikit rilek dengan tampilnya si mojang di pojok atas. jelas ini mutaulisme, selain sindo memberi apreisasi bagi mojang berprestasi, juga sindo terbantu dengan rubrik itu….

sore ini, asred yang kerjanya nanyain calon berita untuk besok dan suka “mencai-maki” lewat sms-nya kalau ada keslaahan ketik mendesak, gak lagi meminta, gw untuk kirim rubrik itu. katanya dua minggu ini gw gak pernah bikin, dan cuma janji…

karena didesak (sayang asrednya cowok jadi desakannya gak terasa) akhirnya sore ini gw kirim juga. dan si mojang yg gw kirim adalah anggota salah satu dancer di subang. di photo, dia pake baju putih, dengan bagian bawah baju diikat, sementara bagin atas atau di bawah kerah sedikit terbuka, sedikit doang jadi gak masyalah….

selain mojang, gw kirim tiga berita lainnya termasuk enam poto lepas tentang dipasangnya bvendera partai baru di jalan ahmad yani.

sms diterima: Jam 17:01:33

085222009xxx:  motret banyak ga ada yang jelas. Ga berguna.

Bahasa ini biasa digunain asred yang satu ini, pedes banget, tapi karena udah biasa jadi gw santai aja, toh kalau lagi asyik mah, dia ga begitu.

sms diterima: Jam 20:45:32

085222009xxx: Mana nomornya mojang?

 

 

 

 

 

sms dikirim: Jam 20:57:04

081324787095: Kebiasan lo ah, skalinya dikasih mojang minta no hp. Baru juga kancing atasnya kebuka udah sange aja. Ini no dia 081573196xxx (sengaja gw kasih no ujang reporter sindo ciamis)

sms diterima: Jam 20:59:42

085222009xxx: Setan lo. Emang gw ga tau. No ujang dikasi … kurang ajar.

Sms dari si asredgondrong itu gw forward ke si ujang

sms dikirim: 21:45:51

Setan lo. Emang gw ga tau. No ujang dikasi … kurang ajar. Ini sms dari asredgondrong, pas dia minta no hp mojang subang yang bakal muncul besok...

SMS diterima dari ujang

21:25:12

081573196xxx: ha..ha..ha.. ha..ha..ha.. ha..ha..ha.. ha..ha..ha.. ha..ha..ha.. bisa jadi bahasan lebih menatrik dari mak erot tuh  ha..ha..ha.. ha..ha..ha.. gelo…

 

13.07.2008

Wanted: Gokildad

WANTED: GOKILDAD

Apakah Anda seorang pria?
Apakah Anda telah menikah?
Apakah Anda telah menjadi seorang ayah?

Jangan ke mana-mana!
Mungkin Anda-lah yang kami buru!

Apakah Anda punya pengalaman ngocol sebagai seorang ayah?
Apakah Anda punya daya humor dan gokil yang over dosis?
Apakah Anda bisa menuliskannya dengan narsis?

Jangan ke mana-mana!
Anda-lah yang kami buru!

Kami sedang mencari-cari soulmate
untuk buku bestseller kami: Gokilmom
Tanpa bermacam-macam teori, cukup baca buku ini
lalu bertuturlah “seperti itu” dari sisi seorang ayah.

Maka, jangan ke mana-mana!
Tulis dan segera kirimkan naskah Anda ke:
Gradien Mediatama
gradienmediatama@gmail.com

All the posts