« 2008-11 | HomePage
| 2008-11 »
05.11.2008
Barak Obama, Yeahhh!!!
Ini adalah momen menentukan dalam sejarah kita. Negara ini menghadapi krisis ekonomi terbesar sejak era Depresi Hebat (Great Depression).
Tercatat 760.000 karyawan kehilangan pekerjaan tahun ini. Sektor bisnis dan keluarga juga tidak bisa memperoleh pinjaman. Kredit perumahan hancur dan dana pensiun menghilang. Kita juga dihadapkan pada standar gaji yang lebih rendah dibandingkan satu dekade lalu.
Sementara biaya kesehatan dan kuliah terus meroket. Jika situasi ini tidak berubah, dalam empat tahun ke depan kita tidak mungkin menaikkan anggaran belanja negara, mengubah ketentuan pajak yang tidak efektif, atau meracik ulang peraturan yang bahkan kini dikatakan keliru oleh mantan Gubernur Bank Sentral Alan Greenspan. Amerika Serikat (AS) butuh trek baru.
Karena itu saya mencalonkan diri sebagai Presiden AS. Hari ini , kita bisa memberikan perubahan yang kita butuhkan. Rival saya, Senator John McCain, secara terhormat telah memberikan sumbangsihnya kepada negara ini. Dia bahkan dapat menunjuk beberapa kebijakan partai yang tidak disukai pada masa lalu. Tapi, dalam delapan tahun terakhir, 80% dia selalu setuju dengan kebijakan Presiden Bush.
Dan ketika membicarakan ekonomi, dia masih saja tidak mampu memberi jaminan kepada rakyat AS atas sesuatu hal signifikan yang dapat dia lakukan berbeda dengan George Bush. Jika ada satu hal yang dapat kita pelajari dari krisis ekonomi, hal itu adalah kita sama-sama terjebak dalam situasi ini. Dari CEO ke pemegang saham, dari bankir ke pegawai pabrik. Saat ini AS mempunyai generasi terbaik dan itu dapat mengangkat kehidupan masyarakat kelas menengah.
Untuk membangun kelas menengah, saya akan memberi potongan pajak hingga 95% untuk pekerja dan keluarganya. Kami akan menciptakan 2 juta lowongan pekerjaan dengan membangun kembali infrastruktur yang hancur. Saya akan mengucurkan USD15 miliar untuk proyek jangka panjang bidang energi, menjamin gaji layak bagi pekerja, dan menghentikan ketergantungan AS terhadap minyak dari Timur Tengah.
(Pandangan Obama yang disarikan dalam tulisan yang pernah dimuat di harian The Wall Street Journal edisi 4 November 2008)
18:45 Permalink | Comments (1) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: info, barak obama
Bukan Lagi Tentang Payudara
Tulisan ini bukan lagi tentang payudara, prokontra undang-undang pornografi-pornoaksi atau hasil Pilkada Kabuapten Subang, yang masih menjadi buah bibir di diskotik, gedung DPR/MPR RI atau warung tegal. Tapi postingan ini tentang gue yang "tertahan" dari tidur, hanya gara-gara krisis ekonomi yang melanda RT gue.
Jam di layar monitor computer tepat pukul 00.05 Wib. Gue masih bertahan di depan monitor. Sudah menjadi kerjaan rutin gue, sebelum tidur gue nyempetin bikin konsep dan agenda utk besok pagi, terlalu idealis memang, tapi gue berusaha utk menghindar dari otak blank ketika besok matahari terbit….
Malam ini gue masuk rumah jam 22.00 Wib. Di perjalanan menuju rumah, ada sesuatu yang mengganjal, istriku dan adeku sudahkah makan malam ini? Gue lupa, sebelum gue berangkat tadi gak ninggalin uang sepeserpun.
Motor keditan yang genap satu tahun gue geber. Sampe di rumah, istri udah tidur, tinggal ade gue yg masih ngutak-ngatik di depan computer. “Sudah makan malam ini dik,” Tanya gue begitu pintu rumah dibuka.
“Belum,” jawab dia. “Bagaimana dengan mpok?,” Tanya gue kembali. “Dia tidur sebelum ditawarin makan,” jawabnya. Alamak pasti keluarga gue malam ini belum ada yg nemu nasi.
Tadi siang gue sempet bilang ke istri, kalo kondisi keuangan di ATM sudah limit dan menipis. Kata-kata itu ternyata ngena banget di telinga istri gue. Siang hari dia hanya makan nasi uduk yang pagi ga gue makan.
Dalam kondisi ini, Istri emang tidak banyak menuntut. Dia terlalu ngerti, mahamin dan sabar dengan kondisi gue. Sebagai kepala rumah tangga, kadang gue harus menebus dosa dan kesalahan gue yang tidak mampu membebaskan istri untuk mendapatkan keinginannya.
Kembali maslaah makan. Gue langsung ade gue utk beli nasi goring yang biasa mangkal di depan gang rumah. Begitunya nasi udah siap, gue langsung bangunin istri utk cepet makan. Gue tahu dia punya mag, kalo lewat dikit, maag-nya langsung kambuh.
Mungkin sudah terlewat telat dan terserang ngantuk, istri gue cuma bilang gak selera. Lagi-lagi gue gak mau maag-nya kambuh, gue akhirnya bujuk dia turun dari atas kasur. “Beli obat jauh lebih mahal disbanding beli sebungkus nasgor,” bujuk gue.
Bujukan gue berhasil, istri langsung turun. Ngeliat bungkusan nasi cuma dua, istri kembali potes, nasi yang buat gue mana? Katanya. “Sudahlah, makan saja dulu, lagian sudah makan koq,” jawab gue.
Jawaban gue yang amat sangat didramatisir itu terpaksa gue lontarin. Gue ngerasa bahagia, malam ini istri dan ade gue bisa makan. Kebahagian itu membuat perut gue yang terlanjur keroncongan langsung kenyang….
"Saat-Postingan-Ini-Gue-Susun-
Dari-Atas-Kasur-Batuk-Istri-Gue-Berkalikali-Nyaring"
00:25 Permalink | Comments (0) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: curhat, ibrah




