« Ketika Peluk Itu Bermakna Spirit | HomePage | Item-item Bolong Tengahe »
11.12.2008
Ketika Peluk Itu Bermakna Spirit
Meyakinkan diri untuk sipa kalah, duka, terpuruk, laper dan tanpa apa-apa berarti kita suda menyiapkan diri dan jiwa kita untuk menjadi sebaliknya, menang, suka, bermewah, kenyang dan memiliki apa-apa.
Namun teori itu tidak berlaku jika diterakan sebaliknya. Ketika kita meyakinkan akan hidup berserba, belum tentu kita siap untuk menjalani hidup tanpa berserba.
Naluri manusia memang menginginkan sesuatu yang positif, bukan lawan katanya. Keinginan itu sah-sah saja, wajar bahkan sudah menjadi keharusan. Sepanjang itu difahami sebagai motivator untuk meraih kemenangan.
Tidak dinafikan pula, pada saat yang kita terima adalah sebaliknya, maka dunia seakan hendak kiyamat. Kondisi ini pulalah yang medorong kita untuk melakukan sesuatu yang sejatinya berlawanan dengan naluri kita sendiri.
Alih-alih, mendekati tahun ketiga bekerja di kantor yang saat ini gue jalani, secercah cahaya itu serasa semakin menjauh. Tidak banyak yang gue miliki. Bahkan beberapa bulan, kawan gue yang koploknya naudzubillah mindzalik, apa yang sudah didapat selama berada di kantor ini?
Ah gue rasa pertanyaan itu sangat konyol. Karena melihat di sekitar tempat gue tinggal, dan setiap sudut ruangan yang gue tempati, perubahan itu hanya ada pada kehadiran istri dan anak.
Tapi tetap saja, itupun gue syukuri. Karena bagaimana dua “mata hati” gue itu adalah nikmat terbesar dan kelezatan dunia.
Tapi, alamak apa yang hendak dijawab, ketika istri mulai membahas pasa persoalan kejujuran. Jujur sebagai pribadi manusia yang memiliki cipta, karsa, rasa dan keinginan.
Alamak, hanya ludah yang berulang kali gue telan, sembari sesekali “berkhutbah” dan bersenandung nina bobok. Betapa bodohnya gue, dan betapa bajingannya gue. Ketika istri meminta, gue balik meminta…
Ah kadang gue egois, betapa cerdasnya gue berkhutbah di depan istri. Sementara gue sendiri belum mampu menahan keinginan gue. Pada puncaknya, saat gue pulang dari pantura tadi siang. Dengan nada lesu, gue bisikan kata ke telinga gue..
“Nda, hp ayah rusak setelah jatuh, masuk kubangan dan terlindas mobil”
Hemmm, bukan kata yang ia jawab, hanya rengkuhan tubuhnya yang memeluk tubuh gue. Dia sangat mengerti, jika pelukan itu memberikan kekuatan dan keyakinan baru..
22:43 Permalink | Comments (1) | Trackbacks (0) | Email this
Trackbacks
The URL to Trackback this post is: http://anas-nkh.blogspirit.com/trackback/1679480
Comments
ehm...co cuiittt...(So Sweet...)...gak, nyangka...
Posted by: yogi pasha | 12.12.2008



